R.A Kartini Tokoh Inspiratif Wanita dan Pejuang Emansipasi Wanita

Kartini dan Sejarah Perubahan Perempuan Indonesia


Nama R.A Kartini memang sudah tidak asing di telinga seluruh dunia, terutama orang Indonesia. R.A Kartini merupakan anak dari pasangan suami istri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A Ngasirah.

Ayah beliau merupakan seorang bupati di Jepara Jawa Tengah. R.A Kartini hidup dilingkungan keluarga bangsawan, namun sang ayah tidak memberikan ijin untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi.
image source : https://www.google.com/

R.A Kartini merupakan seorang perempuan pribumi yang senang menimba ilmu baru, senang membaca dan menulis. Beliau juga sering bertukar surat dengan kawannya di luar negeri pada masa itu.

Akhirnya R.A Kartini mengenyam pendidikan terakhir di Europese Legere School, dan dari sekolah ini beliau mahir berbahasa Belanda. Karena tidak mendapatkan ijin untuk melanjutkan pendidikan oleh sang ayah, R A Kartini akhirnya dipersunting oleh seorang Bupati Rembang yang bernama K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Setelah menikah R.A Kartini mendapat dukungan penuh dari sang suami untuk mendirikan sebuah sekolah wanita yang kala itu bertempat di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang.

Memang tidak bisa kita pungkiri sosok R.A Kartini sangat gigih dalam memperjuangkan pendidikan terutama pendidikan dikalangan perempuan pribumi terkhusus untuk golongan menengah kebawah.
Setahun setelah menikah R.A Kartini dikaruniai seorang anak yang diberi nama Soesalit Djojodhiningrat pada tanggal 13 September 1904. Namun hal lain menimpa R.A Kartini. Empat hari pasca melahirkan yaitu pada tanggal 17 September 1904  beliau meninggal dunia karena menderita penyakit gangguan kehamilan. Beliau dimakamkan di Bulu Kecamatan Bulu Kabupaten Rembang.
Setelah R.A Kartini wafat, perjuangan beliau tidak pernah berhenti. Banyak perempuan yang kurang mendapatkan tempat atau kurang dihargai. Semangat itulah yang membuat R.A Kartini untuk memajukan kaum perempuan pribumi.

Baginya tubuh boleh terpasung, tapi jiwa dan pikiran harus terbang sebebas-bebasnya.
Peran perempuan memang masih dipandang sebelah mata. Perempuan saat sudah berstatus menjadi seorang istri tugas utamanya adalah berbakti kepada suami, mengasihi keluarga, merawat dan mendidik anak agar berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa.

Banyak yang menyebutkan istilah "Disamping lelaki hebat ada perempuan hebat pula". Mengapa saya menyebutkan kata disamping bukan dibelakang. Hal ini karena menurut saya pribadi seorang perempuan tidak hanya bisa berada di belakang kaum laki-laki saja. Misalnya dibelakang ayah atupun suami jika sudah bersuami. Menurut saya seorang perempuan wajib memiliki kesamaan dengan kaum laki-laki. Namun dengan catatan tidak melupakan kewajiban sebagai seorang istri ataupun menjadi ibu kelak bagi anak-anaknya.

Seperti harapan dari pahlawan perempuan negara kita yaitu R.A Kartini bahwa perempuan berhak menikmati pendidikan yang lebih tinggi. Hal itu dikarenakan jika seorang wanita menjadi ibu rumah tangga tanpa berbekal sebuah pendidikan maka tidak bisa mendidik anak-anak dan mencetak generasi sukses yang kelak membanggakan bangsa dan negara terlebih orang tua.

Seorang perempuan yang berpendidikan tinggi tidak memiliki tujuan untuk menyaingi laki-laki, namun pentingnya perempuan jika berpendidikan maka penerus bangsa pun juga akan berpendidikan.
Belakangan ini banyak perempuan sukses yang berhasil mewujudkan impiannya. Bahkan ada juga perempuan memiliki profesi yang pada umumnya dimiliki oleh kaum laki-laki. Seperti menjadi seorang anggota militer, pilot, dan bahkan ada yang berhasil menjadi salah satu pemimpin di negara Indonesia. Sungguh membanggakan.

Prestasi seorang perempuan tidak berhak untuk diragukan lagi. Kodrat perempuan memang mengurus rumah tangga, namun pendidikan harus tetap ada dalam sejarah hidupnya.

Di negara ini penghargaan terhadap wanita memang sudah ditempatkan dengan baik. Namun perlu diperhatikan juga saat ini masih banyak kekerasan yang menimpa para perempuan. Seperti kekerasan dalam rumah tangga, kasus prostitusi, bahkan kasus yang masih hangat ditelinga kita yaitu penyanderaan seorang perempuan bersama anaknya didalam sebuah transportasi umum di kota besar negara ini.

Ironis memang. Ditengah tingginya prestasi-prestasi yang sedang diraih oleh para perempuan, namun masih saja banyak perlakuan yang tidak sepantasnya diterima oleh kaum perempuan. Perempuan harus mendapatkan hak yang sama. Perempuan harus berpendidikan, perempuan harus mendapatkan penghargaan yang sepantasnya. Tidak selamanya perempuan berada di dapur dan hanya bergelut dengan dunia rumah tangga. Perempuan juga harus memiliki pendidikan dan prestasi yang tinggi.
Hai perempuan. Kita tidak selamanya harus berdiam diri dan hidup dibawah naungan laki-laki. Ingat perjuangan R.A Kartini untuk memajukan perempuan pribumi.

"Perempuan harus ingat dan tahu bahwa penerus bangsa yang cerdas, bermoral, dan berakhlak kelak akan lahir dari rahimmu dan akan tumbuh besar lewat tanganmu."

Majulah perempuan Indonesia, namun jangan lupakan kodrat Tuhanmu.
Selamat hari Kartini. Terimakasih R.A Kartini, tanpa perjuanganmu kami akan selamanya menjadi perempuan pribumi yang tidak berpendidikan tinggi.
Salam dari kaum perempuan untukmu Kartini masa depan.

0 comments